Popular Post

Posted by : Unknown Rabu, 15 Agustus 2012

Oleh:
Aris Ali Ridho
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Unila

Frekuensi aksi kekerasan massa di Lampung belakangan makin sering. Persoalan sepele kerap memicu amarah dan berujung pada tindakan anarkitis. Terakhir massa menghabisi nyawa seorang pemuda di Natar dan dibalas dengan pembakaran dua rumah warga yang dianggap sebagai pelaku. Sebelumnya massa membakar Polsek Padangcermin, Pesawaran. Pemicunya hanya pertikaian pemuda, tetapi akhirnya membesar dan menjurus pada masalah suku dan golongan.

Kerusuhan massa juga meletus di perbatasan Mesuji dengan Sumatera Selatan dan merenggut korban jiwa. Belum lama berselang juga mencuat kasus kerusuhan di Sidomulyo, Lampung Selatan. Konflik tersebut juga bernuansa masalah suku dan golongan. Setelah di Sidomulyo, konflik juga meletus di Kalianda. Belum lagi beberapa aksi kekerasan lainnya dalam kurun waktu terakhir, baik yang terjadi di lokal Lampung maupun di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Kecenderungan maraknya kembali aksi kekerasan di Lampung harus menjadi bahan renungan bersama. Terlebih peristiwa tersebut terjadi dalam suasana Ramadhan dan menjelang peringatan hari kemerdekaan bangsa Indonesia.

Tujuh belas tahun sebelum negara ini merdeka rakyat kita sudah menyatakan diri sebagai bangsa yang satu, bangsa Indonesia, yaitu melalui peristiwa Sumpah Pemuda. Peristiwa itu yang kemudian menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya pada 17 tahun kemudian.

Dalam tinjauan historis, hal ini berati bangsa Indonesia lahir jauh sebelum negara ini diproklamirkan. Keragaman, suku, tradisi, adat istiadat, budaya, ras, agama, aliran, dan golongan yang bermacam-macam, serta wilayah geografis yang terdiri dari ribuan pulau, ternyata tidak menjadi penghambat bagi para funding fathers kita untuk mewujudkan sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan pondasi dan semangat kebersamaan, ditengah keragaman tersebut funding fathers berusaha sekuat tenaga merumuskan tata kehidupan berbangsa dan bernegara yang menghargai semua bentuk perbedaan.

Ketika Sumpah Pemuda diucapkan, tidak ada perilaku mentang-mentang satu pihak terhadap pihak lainnya. Tidak ada tirani mayoritas terhadap minoritas. Satu hal yang paling istimewa adalah kesepakatan tentang bahasa persatuan. Meskipun jumlah penutur daerah di Jawa dan sekitarnya lebih besar dibandingkan dengan yang lain, semua pihak sepakat bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan diambil dari bahasa Melayu. Demikian juga sentiment asal-usul suku bangsa dan kedaerahan. Perkumpulan pemuda dari seluruh kepulauan Indonesia, sepakat mengakui berbangsa satu, bangsa Indonesia. Ini merupakan bukti keberhasilan funding fathers dalam menyatukan masyarakat yang plural menjadi satu kekuatan dan identitas baru sebagai bangsa Indonesia. Konsep inilah yang membedakan terbentuknya negara Indonesia dengan negara lain.

Fenomena Kekerasan

Rentetan peristiwa kekerasan bergerak dari satu kejadian ke kejadian lain secara cepat, sampai-sampai melumpuhkan ingatan kita atas peristiwa yang baru saja terjadi. Bahasa kekerasan dan aksi massa seakan menjadi hal yang biasa. Terlebih pelaku kekerasan seakan mendapatkan legitimasi sosial manakala aksi kekerasan yang mereka pertontonkan diliput media massa dan ditayangkan terus secara berkelanjutan. Sosok bangsa yang dulu terkenal dengan peramah, gotong royong, toleran, yang dalam hidupnya didasarkan pada kepentingan bersama sebagai anak negeri, kini harus diakui mulai terkoyak.

Bangunan ke-Indonesiaan yang nampak ideal dan indah tersebut mulai rapuh ditelan waktu. Keragaman yang katanya sebagai identitas dan kekuatan nasional, saat ini justru seringkali menjadi pemicu timbulnya konflik vertikal maupun horizontal yang akhir-akhir ini marak terjadi. Seolah-olah semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang terdapat di kaki kuat sang Burung Garuda mulai melemah, menggantung dan nyaris terjatuh. Identitas “Kita” sebagai bangsa Indonesia mulai tergadaikan, dan lebih memperlihatkan pada posisi sebagai “Aku - Kamu” dan ”Kami - Mereka”.

Barangkali memang ada benarnya, seperti apa yang dikatakan oleh Max Lane (2007), yang menyatakan bahwa Indonesia adalah bangsa yang belum selesai. Sehingga politik identitas dalam format identitas suku (ethnic identity), identitas daerah (regional identity) dan identitas agama (religious identity) di Indonesia sangat mudah menguat.

Identitas Kebangsaan

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk dan memiliki unsur pembentuk identitas bangsa yang kompleks dan teranyam dalam perjalanan sejarah panjang Indonesia. Suku bangsa yang secara natural terdapat ratusan suku, beragam bahasa, agama, budaya, dan keyakinan yang mendiami pulau Nusantara, juga merupakan unsur pembentuk identitas bangsa Indonesia.

Soekarno menyebutkan, bahwa bangsa Indonesia bukanlah sekedar le desir d'etre ensemble - kehendak untuk bersatu dan yang merasa dirinya bersatu - oleh bangsa tertentu di Indonesia, akan tetapi seluruh bangsa yang tinggal dalam wilayah geopolitik Indonesia merasakan le desir d'etre ensemble Indonesia.

Identitas bangsa memiliki dimensi tujuan atau cita-cita yang ingin dicapai oleh sebuah bangsa, identitas yang bersumber dari cita-cita ini bersifat dinamis dan paling banyak didiskusikan ulang. Identitas bangsa Indonesia yang bersumber dari dimensi cita-cita ini sangat terkait dengan apa yang diungkapkan Ernes Renan sebagai le desir d'etre ensemble, yakni adanya kehendak untuk bersatu dan merasa bersatu, untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945.

Konsep bangsa Indonesia yang kaya dengan keragaman dan memposisikan sebagai bangsa yang plural, dan dengan kenekaragaman tersebutlah yang menjadikan sebuah identitas nasional bangsa Indonesia sekaligus menjadi identitas kebangsaan. Kebanggaan kita akan sebuah identitas nasional itulah yang dapat mewujudkan integrasi nasional.

Maraknya konflik dan aksi-aksi kekerasan di negeri ini yang telah menjadi tontonan rutin dan pemberitaan utama di berbagai media massa akhir-akhir ini nampak mulai dipertanyakan. Baik oleh kita sendiri sendiri sebagai bangsa Indonesia, maupun ”mereka” bangsa lain. Entah lari kemana kebanggaan atas identitas (nasionalisme) kita yang dahulu diperjuangkan dan terus dipertahankan yang kemudian sangat dikagumi oleh bangsa lain?. Serta masihkah identitas tersebut melekat dan menjadi jati diri atau kepribadian bangsa Indonesia saat ini?.

Melihat kondisi bangsa demikian, nampaknya perlu ada sebuah upaya alternatif dalam menyatukan keragaman di Indonesia dengan mengadakan akomodasi serta revitalisasi ideologi Pancasila sebagai pemberdayaan identitas nasional. Hal ini  merupakan solusi yang tepat untuk menyatukan bangsa yang besar ini serta didasari keyakinan kuat bahwa Pancasila masihlah merupakan simpul nasional yang paling tepat bagi Indonesia yang majemuk.

Seperti apa yang pernah diungkapkan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahwa “Sebuah bangsa yang mampu bertenggang rasa terhadap perbedaaan-perbedaaan budaya, agama, dan ideologi adalah bangsa yang besar” untuk mewujudkan integrasi di Indonesia dengan mutual of understanding. Kita semua berharap seluruh elemen bangsa menyadari bersama bahwa persatuan adalah modal terpenting menuju kesejahteraan masyarakat. Tidak ada pembangunan yang berhasil tanpa persatuan. Tidak ada kesejahteraan masyarakat tanpa persatuan.

*). Artikel ini pernah dimuat di Lampung Post pada kolom Opini, Rabu 15 Agustus 2012.

{ 2 komentar... read them below or Comment }

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Binance showing delay in deposit time
    Are you a Binance user? Do you face delay while depositing in Binance? To deal with the deposit time errors, you can dial 24*7 Binance support number 1800-665-6722 and get all your issues vanished in split seconds with precision. The experts are always near to assist you if you don’t know how to trade with the faults and address the latest solutions so that users can comfortably seize it. So, contact the A-rated specialists as per your requirements and necessities. Visit:- http://www.cryptophonesupport.com/exchange/binance

    BalasHapus

- Copyright © arisaliridho.com - Edited - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -